SELAMAT DATANG DI BLOG AMF
Al Mageti Foundation (AMF) adalah program bantuan beasiswa dari alumni Magetan kepada pelajar Magetan
Mimpi AMF adalah menjadi lembaga sosial profesional yang dapat membantu ratusan siswa yang kurang mampu
Bantuan dapat disalurkan melalui: Rekening bank Muamalat: 0124727845 atas nama: Setyo Purwanto (Bendahara Umum AMF) Kode atm bersama: 147

AMF: Beasiswa untuk Ida Nasution, Ima, dan Silaturahim Keluarga Ertika

Alhamdulillah, Bulan November kemarin, AMF berkesempatan untuk kembali menyalurkan infaq para donatur untuk 2 orang pelajar yang membutuhkan.

Bermula dari SMS dari Ida Nasution, seorang yang cukup saya kenal. Pernah satu kelompok dalam sebuah aktivitas dengan saya, juga sama-sama menjadi mentor di kegiatan Dakwah Sekolah dan mentoring di kampus akbid. Saya akui, Ida adalah seorang yang sangat gigih dan tak kenal putus asa. Ketidakmampuan orang tuanya, tidak lantas memupus keinginannya untuk melanjutkan kuliah. Lulus dari SMA tahun 2006, Ida harus memendam sementara niatnya untuk bisa kuliah di Akbid. Dia harus bersabar, hari-hari mantan ketua OSIS SMA 1 Kawedanan ini diisi dengan mengajar di sebuah PAUD dan TK rintisan seorang akhwat, juga memberikan les untuk anak SD di rumah.

Sampai pada akhirnya, kesempatan untuk kuliah datang. Sekitar 5 tahun kemudian. Tabungan orang tuanya dan tabungannya sendiri ditambah bekal niat serta doa, membawanya mendaftar di sebuah akademi kebidanan di Kota Madiun, yaitu Akbid Muhammadiyah Madiun. Mulai saat itu hari-harinya tambah sibuk, sibuk dengan jadwal kuliah yang padat. Pagi hingga lepas dhuhur. Lalu bergegas pulang untuk memberikan les hingga menjelang malam. Semua itu dilakukan agar teru bisa kuliah. Namun, ada sebuah titik dimana dengan berat hati orang tuanya harus mengatakan tak sanggup lagi membantu Ida mencukupi kebutuhan biaya kuliah. Karena orang tuanya masih punya tanggungan dua adiknya yang masih SMP dan SMA.

Berlatar pengakuan itulah, Ida mengsms saya. Mengajukan dirinya untuk mendapatkan beasiswa dari AMF. Alhamdulillah, bantuan dana untuk Ida telah diserahkan. Sebesar Rp 1.500.000,00 untuk membantu mencukupi biaya per semester kuliahnya. Dia mengaku, kadang takut kalau impiannya untuk berhasil menjadi seorang bidan akan pupus di tengah jalan. Namun, niat kuatnya untuk lulus kuliah, memuliakan orang tuanya, menjadi semangat tersendiri untuk bisa bertahan walau harus berdarah-darah. Satu hal yang sangat dia yakini bahwa Allah akan selalu bersama hamba-Nya. InsyaAllah, biaya bantuan untuk Ida akan diberikan setiap semester.

*****

Penyaluran beasiswa yang kedua di bulan November ini diberikan kepada Ima. Ini kali kedua bagi Ima menerima bantuan dari AMF. Ima adalah siswa SMKN 1 Magetan, sekarang duduk di kelas XI. Berdasar surat tagihan dari sekolah yang ditunjukkan kepada saya, bantuan untuk Ima kali ini, diserahkan sebesar Rp 1.050.000,00. Ini termasuk membayar SPP 6 bulan yang sudah hampir jatuh tempo. Ima memang hanya tinggal dengan kakak laki-laki dan Ibunya. Ibu hanya bekerja seadanya, sementara kakaknya seorang guru honorer yang digaji oleh sekolah.

Setiap saya menyerahkan beasiswa AMF kepada Ima dan kakaknya, saya selalu melihat semangat di wajah mereka. Senyum bahagia, seperti ada beban terangkat dari tubuhnya yang sebelumnya tercermin di raut wajah mereka. Bismillah semoga berkah.

*****

Di bulan November ini, juga ada satu hal menarik untuk AMF yang layak jika di posting di blog ini. Dengan harapan akan mengembalikan, menambah semangat untuk AMF. Bahwa keberadaan kita, ternyata dirasakan dan dibutuhkan.

Yup, akhir November lalu saya kedatangan tamu yang sebenarnya membuat saya malu. Saya yang terbilang muda, disilaturahimi orang tua, yaitu Ertika dan kedua orang tuanya. Saya sangat pakewuh, berkali saya minta maaf belum bisa sowan dan memperkenalkan diri ke keluarga Ertika (Ertika adalah salah satu penerima beasiswa AMF).

Setelah mulai percakapan, tujuan kedatang Ertika dan orang tuanya adalah silaturahim, melihat bayi saya, juga ingin mengucapkan terima kasih. Berkali Bapak Ertika mengucapkan terima kasih. Beliau bercerita tentang kehidupan keluarganya, sesekali beliau menyeka air matanya yang nyaris tumpah. Sepanjang bercerita beliau menahan getar suaranya.

Dalam kesempatan itu saya mengenalkan AMF, proses terbentuknya, dan visi misinya. Beliau sangat salud dengan AMF, donatur, dan siapapun yang terlibat dengan AMF. Tak terhitung berapa kali, beliau menyampaikan semoga teman-teman di AMF selalu mendapatkan keberkahan hidup, mendapatkan pahala berlimpah dari Allah swt.

*****

Nah, semoga penyaluran dana kepada Ida dan Ima, juga silaturahim keluarga Ertika bisa menjadi bukti bahwa keberadaan AMF yang tampak sepi dari publikasi ternyata dibutuhkan, dirasakan. Dan lebih dari itu menjadi sumber motivasi bagi teman-teman AMF dan para donatur untuk terus menjadi bagian dari para penimba ilmu yang membutuhkan biaya belajar. Untuk bisa merasai kebahagiaan dan senyum mereka ditengah himpitan kebutuhan akan uang. Tentunya harapan terbesar lewat AMF, bersama-sama kita dapat menjalani hidup dibersamai oleh keberkahan. Amin Yaa Rabb.

Berkah Silaturahmi


Bismillah.

Saling bertandang, berkunjung ke teman sanak saudara dan faimily merupakan hal yang simple, mudah, dan menyenangkan seharusnya. Namun demikian, budaya yang baik ini sekarang mulai luntur sedikit demi sedikit. Orang lebih senang menghabiskan waktu libur untuk melakukan yang berbau dunia maya. Seperti, lebih enak leyeh-leyeh di rumah sambil nonton acara TV dari pagi sampai siang, Maen game sepuasnya seharian, atau internetan seharian, atau pengen memuaskan tidur dari pagi sampai siang di hari libur, apakah salah? ya enggak sih, hanya saja kok sepertinya tidak ada aktivitas lain yang lebih baik yang bisa dilakukan.

Masih banyak aktivitas selain hal-hal diaats dalam menghabiskan waktu libur. Salah satunya adalah bersilaturahmi ke teman, sanak family. Selain untuk mempererat ikatan hati, ada keberkahan disana. Dan ada rejeki yang akan tidak terduga. Selain bisa menambah saudara dan teman, sering sekali aku mendapatkan rejeki tak terduga.

Seperti Idul Qurban tahun in (1433 H), saat tanggal 10 Dzulhijah ke Rumah bulek di cibinong, dapet makan sate gratis, dan pas juga kebetulan aku tidak mendapatkan jatah qurban di tempat tinggalku. Tapi Alloh menyediakan rejeki nyate daging kambing saat berkunjung di bulek cibinong yang jaraknya 30an km dari tempat tinggalku. Pertanyaannya, apakah jika aku tidak ke cibinong aku akan dapat makan sate? Menurutku kemungkinan besar tidak, sebab rejeki itu disediakan Alloh pada tempatnya masing masing, tergantung kita mau menjemputnya atau tidak.

Tanggal 12 Dzulhijahnya, aku dan temen temen kerja silaturahmi ke salah satu karyawan pabrik yang tiggal du daerah Ulujami, Pesranggahan Jakarta selatan atau sekitar 30an km juga dari tempat aku tinggal. Dan subhanallah, dapet gulai sapi, ketupat, spageti dan makanan-makanan yang alinnya. Di tanggal 10 dapet sate kambing, tanggal 12nya dapat gulai sapi. Akhirnya di hari qurban merasakan makanan dari kambing dan sapi, padahal aku gak dapat jatah dari daerahku tinggal daging dari kedua hewan tsb. Tapi lihatlah bagaiaman Alloh memberi melalui perantara silaturahmi.

Sebenarnya masih banyak cerita lain tentang keberkahan silaturahmi ini, yang seolah olah apa yang kita cari selama ini tidak ketemu, ternyata bisa terselesaikan dengan sangat mudah dengan cara silaturahmi. Tidak ada salahnya untuk di coba sobat, dan buktikan kedasyatan berkah silaturahmi. (9ethuk)

Tetangga, oh tetangga

Sahabat AMF sekalian, belum pernah ada cerita orang hidup di dunia, dari awal dia lahir hingga bisa beranjak dewas, tua, sampai dia meninggal tidak membutuhkan bantuan dari orang lain. Kalau ada, saya bakal bilang waw, sambil koprol.

Dan, tetangga adalah 'orang lain' terdekat yang akan kita miliki, mau atau tidak mau. Sehingga, jauh jauh hari sebelum ada buku tentang tata bertetangga yang baik dan barakah.

Pengalaman pribadi yang hampir satu tahun ngontrak di Jakarta Pusat, daerah Mardani yang meruapakan kawasan padat. Mau tidak mau kita akan bertenagga dengan Ibu kontrakan, dan tetangga kontrakan. Sebenarnya ngekost bukanlah hal yang baru bagi saya, dulu waktu kuliah juga ngekost selama 5 tahun. Tapi saat sekarang dengan kondisi yang berbeda, saya ngontrak saat sudah berkeluarga. Artinya, orang akan melihat kita bukan secara individu, tapi secara keluarga menyeluruh. Maka tidak heran jika ada sebutan, keluarganya pak ini, keluarganya pak itu, ada tambahan ejaan keluarga sebelum disebut nama kita.

Salah satu pilar kesuksesan berkeluarga adalah kesuksesan kita bertetangga, untuk sukses bertetangga kuncinya simple aja sebenarnya.

"Bagi yang kita punya, maka orang lain akan membagi untuk kita kebaikan". Jadi kita dituntut untuk memberi tertelih dahulu, bukan menunggu pemberian dari tetangga.  Pengalaman pribadi, saat akan memulai memberi ada rasa 'takut' yang tidak berdasar saat akan memulai memberi, ada takut terlalu sedikitlah, atau mungkin barang yang kita berikan tidak seberapa harganya, takut ditolaklah, takut ini itu dll, sungkan dll, yang inti sebenarnya adalah kita tidak terbiasa untuk memulai memberi. Saran saya, mulailah sekecil dan setidak bergarha apapun itu, selanjutnya akan mudah.

Karena aku perantauan, biasanya sehabis pulang kampung aku pasti dibekali ibuk oleh2 khusus untuk ibu kost. Kadang kerupuk, tempe kripik, jajanan magetan. Nah, dari situ aku kasih ke Ibu kost, apakah saudara tau impactnya hingga saat ini?

Hampir setiap kalia ada acara keluarga, kamarku kebagian rejeki. Kadang dikasih lauk pauk, kue ultah cucunya ibu kost, bahkan pas puasa aku dan istri sering dapet menu buka puasa. Tidak hanya sekali dua kali, berkali kali.

Bahkan pernah pas puasa Ramadhan ini, pas itri ke surabaya cuti melahirkan, aku di jakarta sendirian. Sahur-sahur ibu kost ngasih makan sahur dan bertepatan aku gak punya makanan buat sahur. MasayAllah. Dan tidak hanya sekali itu terjadi, saat buka puasa juga gitu.

Baru baru aja, lagi pengen makan ke warteg, ibu kost manggil, diaajak makan siang bersama. Wow, sesuatu banget. Tadi malam, pas kelaperan Ibu kost datang bawa kue. Waw lagi dan masih banyak lagi.

Bukan hanya tentang dikasih makanan, obrolan jadi mancer saudaraku. Kadang ngobrol ama bu kontrakan tentang harga barang2 yang murah sekitar situ, warung makan yang enak, perabot rumah tangga yang kuat dan murah, pasar yang murah dan lengkap, beli ini dimana, beli itu dimana dan semua tentang kebutuhan kita berumah tangga bisa terselesaikan dengan cepat. Hany berawal dengan memberi.

Jadi mari kita mulai dengan memberi, hiraukan dulu tentang takut dan menunggu diberi. (9ethuk)

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Buy Printable Coupons